Bulan kemarin keluarga ibu Heni mendapat musibah. Putranya kecelakaan ditabrak orang. Tak kurang rasa sakit yang diderita putra Bu Heni ini. Kakinya patah, jari tangan retak sampai dagunya bergeser. Di Rumah Sakit, alih-alih langsung mendapat perawatan, mereka diisolasi dulu selama 3 hari sebab hasil swab menunjukan reaksi positif. 

Bu Heni muram. Setelah tiga hari, putranya dipulangkan untuk melanjutkan karantina mandiri di rumah. Operasi  pada kaki putranya yang patah ditunda sampai sembuh dari Covid. Sedih hati Bu Heni mendengarnya. Anaknya harus menahan sakit lebih lama. Miris lagi ketika ia diminta membayar biaya ambulans sebesar tiga ratus lima puluh ribu rupiah untuk pengantaran pulang dari rumah sakit. Maklum, penghasilan Bu Heni sebagai asisten rumah tangga tidak besar. Jasa ambulans tidak ditanggung asuransi kesehatan macam BPJS. 

Pekan lalu Bu Heni meminta bantuan Bu Wanti, temannya di Komunitas Senam Nusantara (KSN). Bu Heni minta dicarikan ambulan gratis untuk mengantar jemput putranya ke rumah sakit. 

Bu Wanti, yang juga komandan KSN segera menghubungi relawan PKS terdekat di dapil 5 Sleman. Relawan PKS Sleman segera gerak cepat membantu Bu Heni. Sabtu, 12 Maret kemarin tim relawan menjemput putra Bu Heni yang tinggal di dusun Bedok, Kalurahan Trihanggo, Kapanewon Gamping, Sleman.

Alhamdulillah, urusan ini tertangani dengan baik. Bu Heni menyampaikan terima kasih setulusnya. Siapa sangka, ikutan senam KSN berbuntut layanan macam ini. 

Mau bagaimana lagi, melayani kadung jadi DNA Relawan PKS.