Gua Tsur kelak dikunjungi peziarah sebab menjadi tempat persembunyian Rasulullah saat hijrah ke Madinah. Kita hafal cerita laba-laba dan burung merpati yang membangun sarang di depan gua hingga mengalihkan perburuan kafir Quraisy. Tapi tidak semua orang mengenal si penunjuk arah, Abdullah bin Uraiqith.

*

Minggu 6 Maret 2022, saya khusyuk mendengar sambutan Ketua DPW PKS DIY, Agus Mas’udi, ST dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) DPD PKS Sleman dengan mode hybrid. Maklum masih pandemi. Hanya pengurus harian yang kopdar menghadiri Rakerda. Saya kebagian instruksi menyimak melalui Zoom. 

Gus’ud-begitu pak ketum DPW PKS DIY biasa disapa, menceritakan salah satu bagian dari kisah hijrah Rasulullah ke Madinah. Soal kolaborasi lintas keyakinan antara Rasulullah dan seorang kafir penyembah berhala pada hal muamalah. Begini ceritanya, 

Sebelum hijrah, Rasulullah dan Abu Bakar Ash Shidiq meminta bantuan Abdullah bin Uraiqith, sebagai penunjuk jalan di padang pasir. Abdullah bin Uraiqith mengarahkan rute ke Madinah yang berbeda dan tidak umum dilewati. Ia juga menghapus jejak Rasulullah semasa bersembunyi di gua Tsur. 

Enggak kebayang ya bagi kita menghapus jejak di padang pasir itu seperti apa. Bukannya jika ada angin otomatis tertutup pasir dan jejak kaki unta akan hilang ya? Ternyata enggak gitu konsepnya bestie. Makanya ada profesi navigator macam Abdullah bin Uraiqith ini. Rasulullah berkolaborasi dengannya.

Etapi, tetap saja saya heran. Apa alasan Abdullah bin Uraiqith melakukan itu semua? Secara, dia penyembah Latta, beda keyakinan dengan Rasulullah yang menyebarkan ajaran tauhid. Memang benar Rasulullah memberikan imbalan atas jasa navigasi ini, tapi ada tawaran materi yang jauuuh lebih banyak saat itu. Pembesar Quraisy menawarkan 100 ekor unta bagi siapa saja yang menemukan persembunyian Rasulullah. Ini kalau dikonversikan ke rupiah, seekor unta 30 juta, 100 ekor unta sekitar 3 miliar. 100 ekor unta ditolak lho sama Abdullah bin Uraiqith. Opo sampeyan waras nolak ini? 

Ada yang jauh lebih berharga dibanding materi. Yaitu kepercayaan kedua belah pihak. Menepati janji dan tidak berkhianat adalah bagian dari akhlak kolaborasi. Kolaborasi menurut Gus’ud bisa dilakukan dengan siapa saja. PKS terbuka untuk bekerja sama dengan pihak manapun termasuk non muslim sebagai sesama anak bangsa. Transformasi ini tentu butuh adaptasi dari semua lapisan. Anggota PKS maupun masyarakat umum. PKS terus melayani dan warga Sleman bersedia menjadi anggota PKS, misalnya. Ini kan juga bentuk kolaborasi tho.

Dalam menyelesaikan amanah di tahun 2022 ini, Gus’ud berharap target PKS Sleman lebih nyata dan terukur secara struktural sampai tingkat kordinator dusun maupun hitungan rekuritmen anggota baru.  

Melihat angka-angka target rekruitmen tahun ini memang membuat saya kemeng. Belum kerja apa-apa, sudah khawatir duluan. Sebagai emak-emak staf humas di DPD PKS Sleman, auto mikir konten dong. Piye carane eksis.

“Berusaha dulu. Yakin pertolongan Allah akan datang!” Gus’ud membesarkan hati. 

Pertolongan Allah adalah sunatullah bagi siapa saja yang sudah berikhtiar. Usaha semampunya. Sekuatnya. Seperti Rasulullah yang berikhtiar dengan bersembunyi di dalam gua Tsur. Kaki-kaki kafir Quraisy yang mengejar Rasulullah sudah sampai di depan mulut gua. Mereka tidak memeriksa ke dalam sebab sarang laba-laba dan burung merpati yang tiba-tiba tersusun rapi di depan gua. Mustahil ada orang di dalamnya. 

Sungguh, pertolongan Alah itu dekat. 

Saya khusyuk meresapi kalimat ini diam-diam.

(Yosi Pratiwi)